Bahaya CO Pada Gas Buang Kendaraan

Mengenal Emisi Gas Buang Kendaraan

Kanal Otomotif. CO pada gas buang kendaraan bermotor sangat berbahaya dan sudah banyak memakan korban. Bahayanya, CO adalah gas tidak beraroma. Lewat pemapasan, ia mengikat Hemoglobin 210 kali lebih kuat dibanding O2 yang dihirup.

Dengan kata lain, CO dengan kadar tertentu, amat cepat mencapai syaraf di otak. CO dengan konsentrasi 100 ppm menyebabkan pusing dan cepat capek, pada 250 ppm akan membuat seseorang pingsan, dan pada konsentrasi 1.000 ppm, bisa membuat seseorang mati. Sedangkan pada udara segar di pegunungan, kadar CO hanya 0,05 ppm.

CO pada gas buang kendaraan

Meski banyak memakan korban, namun agaknya kita belum sadar akan  pentingnya CO rendah. Di jalan raya, masih sering ditemui bus dan truk bebas melepaskan asap tebal. Padahal gas buang yang pekat selain berbahaya bagi kesehatan, juga menghalangi pandangan mata pengemudi di belakangnya. Rendahnya kesadaran akan kebersihan udara, membuat udara yang kita hirup makin beracun.

Tinggi-rendahnya CO pada gas buang kendaraan, bisa menjadi indikator kinerja mesin mobil bekas dan baru hari ini. Bila CO rendah, bahan bakar yang masuk silinder terbakar habis, mesin lebih bertenaga dan irit bahan bakar. Sebaliknya, bila gas buang ber-CO tinggi, mesin kurang bertenaga dan boros bahan bakar.

Lalu, bagaimana mengetahui kadar CO? Bengkel-bengkel besar biasanya menggunakan alat yang disebut gas analyzer. Dengan alat ini, mesin disetel kembali untuk mendapatkan CO terendah. Tune-up tidak cukup untuk mengetahui besar kadar gas CO yang dibuang.

Teknologi kendaraan bermotor pun sudah amat maju. Desain mesin, diarahkan agar ramah lingkungan. Pasokan bahan bakar yang diinjeksi dan dikendalikan komputer, menghasilkan kinerja mesin yang optimal dan produksi gas beracun yang minim.

Teknologi injeksi seperti sistem Electronic Fuel Injection (EFI) dan catalytic converter yang
dipasangkan pada knalpot, bisa menjadi alternatif mengurangi “produksi” gas beracun. Namun, dibanding EFI, catalytic converter tidak begitu efisien, karena komponen ini tidak berpengaruh langsung pada kinerja mesin, dan hanya mengelola gas dengan kandungan CO, NOx dan HC yang cukup minim.

Bagaimana cara mengurangi kadar CO?

1. Tes kompresi mobil bekas & baru Anda, sesuai spesifikasi mesin mobil. Mesin bensin yang bertekanan kompresi rendah, umumnya tidak bertenaga, boros oli (tiap 1.000 km mungkin harus menambah oli satu liter). Ujung knalpot berjelaga hitam, bukan abu-abu.

2. Saringan udara harus sering dibersihkan dan diganti setiap 20.000 km. Permukaan saringan udara yang tersumbat debu, akan lebih banyak menyedot bensin, membuat campuran dengan udara tidak imbang.

3. Gas buang ber-CO tinggi, bisa dinetralisir dengan catalytic converter yang dipasang pada saluran gas buang guna mengurangi jumlah CO, NOx, dan HC. Alat itu sendiri merupakan komponen knalpot dari emission control system.

Memang, tidak semua bengkel dilengkapi gas analyzer. Namun, melihat tren dunia otomotif saat ini, memiliki alat ini sudah menjadi keharusan sebuah bengkel.

Ingat kadar CO yang merendah menunjukan mobil Anda irit. Oleh karena itu setelah melakukan Engine Tune Up mintalah kepada bengkel agar di test kadar CO mobil Anda. Kijang mesin seri K sekitar 2%, namun untuk mesin- mesin Vtec, VVTi yang sudah DOHC CO bisa rendah sampai 0,20 %.

sumber: https://www.literasionline.com/bahaya-co-pada-gas-buang-kendaraan-bermotor

 

Bahaya CO pada gas buang kendaraan –

About the Author: Kanal Oto

Turut berbagi informasi dan pengetahuan seputar dunia otomotif

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *